Studi yang sedang berlangsung yang dilakukan oleh National Institute of Dental dan Craniofacial Research (NIDCR), bagian dari Institut Kesehatan Nasional AS, difokuskan pada evaluasi faktor-faktor risiko untuk sindrom TMJ pada individu yang sehat.
Hasil awal telah mengidentifikasi sekelompok faktor fisiologis, psikologis, sensorik, dan genetik dan sistem syaraf yang dapat meningkatkan risiko pengembangan sindrom TMJ.
Temuan baru akan memungkinkan kita untuk lebih memahami onset dan perkembangan sindrom TMJ. Selanjutnya, cara-cara baru untuk mendiagnosa dan mengobati kondisi tersebut dapat dikembangkan. Di bawah ini adalah beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi:
Jenis Kelamin: Wanita berisiko lebih tinggi mengalami sindrom TMJ dibandingkan dengan pria. Selain itu, mungkin ada perbedaan dalam cara perempuan dan laki-laki menanggapi rasa sakit dan obat pereda nyeri.
Usia: Studi pada individu berusia antara 18-44 menunjukkan bahwa risiko untuk mengembangkan kondisi TMJ meningkat untuk wanita. Ini telah dicatat terutama untuk wanita selama tahun-tahun subur mereka. Untuk pria usia 18-44, tidak ada peningkatan risiko.
Toleransi nyeri: Studi menunjukkan bahwa orang yang lebih sensitif terhadap rangsangan yang sedikit menyakitkan memiliki peningkatan risiko untuk mengembangkan sindrom TMJ.
Genetika: Ada beberapa indikasi bahwa gen yang terkait dengan respons stres, kesehatan psikologis, dan peradangan dapat meningkatkan risiko sindrom TMJ.
Nyeri kronis: Mereka yang menderita kondisi nyeri kronis seperti nyeri punggung bawah dan sakit kepala mungkin berisiko tinggi untuk sindrom TMJ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar